Semua yang besar itu pasti bermula dari yang kecil, begitu pula dengan bisnis dan industri. Untuk memulai membangun usaha perindustrian, tentunya ada resepnya tersendiri. Kita harus memikirkan dengan matang tentang usaha apa yang akan kita geluti. Pastikan bidang usaha industri yang kita ambil itu sesuai dengan minat dan mengandung kegiatan ekonomi yang kita senangi. Read the rest of this entry

Tantangan terbesar yang harus dihadapi seorang pengusaha sebenarnya bukanlah tantangan dari luar seperti kompetitor dan pasar. Tantangan terberat adalah tantangan yang muncul dari dalam perusahaan sendiri. Bagaimana pengusaha tersebut mampu membuat usahanya bertahan? Pada kenyataannya, industri kecil sulit bertahan dari waktu ke waktu. Banyak faktor yang membuat industri kecil sulit bertahan lama, setidaknya hingga generasi kedua.

Apa saja faktor yang membuat industri kecil sulit bertahan, bahkan hanya sekedar hingga generasi ke-dua dari pemilik usaha tersebut?

  1. Perbedaan pola pikir antara pemilik industri kecil (pemilik lama dan pemilik baru) membuat ada pergeseran pola manajemen yang tidak selalu mulus. Manajemen baru melihat usaha tersebut memiliki pola manajemen yang kuno. Manajemen baru cenderung ingin merombak manajemen lama yang notabene sudah terbukti mampu “memelihara” usaha tersebut sekian lama.
  2. Industri kecil tidak dikelola dengan manajemen yang ketat dan profesional. Pemilik lama sekaligus pendiri bahkan tidak menyiapkan suksesi usaha secara ketat. Di sisi lain, keturunan mereka tidak selalu menaruh minat yang sama pada usaha tersebut. Perbedaan jaman tak pelak lagi menimbulkan perbedaan pola pikir. Keturunan dari pengusaha tersebut memandang bahwa industri kecil yang di jalani orangtua mereka tidak bisa mendatangkan keuntungan secara cepat. Sebagian bahkan lebih memilih bekerja di perusahaan besar. Akibatnya, seringkali seiring menurunnya kinerja (biasanya dipengaruhi kesehatan pemilik), industri kecil akan meredup.
  3. Home industri tidak mengenal pola pendidikan pada anak-anak. Mereka hanya melibatkan anak-anak dalam keluarga tersebut sebagai staf atau pekerja paruh waktu. Pemilik home industri beranggapan bahwa hal tersebut sudah cukup untuk mendidik anak-anak agar siap mengelola usaha mereka di kemudian hari. Sayangnya, pola pemikiran itu tidak sejalan dengan pola pikir anak-anak mereka.
  4. Pola pemasaran home industri yang cenderung lambat dan pelan akan membuat pemilik baru (dengan pola pikir kekinian yang cenderung menginginkan hasil cepat) merombak manajemen pemasaran dengan strategi pemasaran baru. Sayang sekali, strategi pemasaran baru yang dilaksanakan tidak disertai dengan pemahaman secara mendalam akan usaha tersebut. Akibatnya, strategi pemasaran baru itu gagal pada pelaksanaannya. Kinerja usaha akan menurun dan kemudian sang pemilik baru memilih mengganti usaha tersebut dengan usaha baru yang menurutnya lebih prospektif. Hal ini umumnya terjadi karena tidak ada hubungan emosional yang kuat antara pemilik usaha baru dengan usahanya.

Pengusaha baru atau calon pengusaha umumnya mengeluhkan bahwa memulai usaha dari kecil membuat mereka harus menghadapi persaingan (head to head) dengan industri besar. Mereka merasa tidak memiliki kekuatan untuk bersaing dengan industri besar. Pada kasus ini, banyak pengusaha tidak menyadari potensi daya saing industri kecil. Pada banyak kasus, industri kecil justru relatif lebih tahan guncangan dibanding dengan industri besar.

Berikut daftar daya saing industri kecil yang membuatnya relatif lebih “tangguh dan tahan banting” dibanding dengan industri besar.

  1. Industri kecil hanya memiliki lingkup pasar yang relatif jauh lebih kecil. Beban keterpurukan karena pasar gagal bayar tidak akan terlalu mempengaruhi industri kecil yang hanya memiliki pembeli dalam skala kecil. Industri besar seringkali harus kolaps ketika pembeli besar mereka yang menguasai pembelian di perusahaan itu tiba-tiba gagal membayar pesanan mereka.
  2. Daya saing industri kecil yang lain adalah pola manajemen. Tak disangka, pola manajemen home industri yang sederhana bahkan cenderung kuno justru menyelamatkan banyak industri kecil dari kebangkrutan akibat perubahan iklim ekonomi secara masif. Ketika banyak industri besar bangkrut karena hantaman krisis ekonomi dunia, beberapa industri kecil dalam skala home industri justru masih bertahan. Pola manajemen kekeluargaaan ditengarai sebagai salah satu faktor penguat di industri kecil. Manajemen kekeluargaan yang hanya mempekerjakan keluarga dan tetangga justru tidak terlalu terpengaruh krisis. Pekerja home industri yang nota bene masih sanak keluarga sendiri tentu tidak akan serta merta menghentikan pekerjaan mereka sendiri hanya karena “perusahaan” belum bisa membayar mereka secara penuh. Buruh di perusahaan besar akan berdemo dan menghentikan proses produksi jika upah tidak dibayarkan dalam tempo tertentu dan tentu itu akan memperburuk kondisi perusahaan.
  3. Manajemen industri kecil mampu bersaing karena banyak hal masih dilakukan dengan cara sederhana dan murah. Sebagai contoh, dalam manajemen industri kecil, masih dikenal pola pemasaran mulut ke mulut. Pola pemasaran ini tentu merupakan pola yang sangat efektif dan tidak memerlukan biaya. Ketika biaya beriklan sudah dirasa terlalu mahal, pola ini akan tetap berjalan. Kemampuan industri kecil untuk bertahan di masa krisis akan membuat pola pemasaran mulut ke mulut ini makin memperkuat citra mereka sebagai perusahaan yang kuat dan akan menaikkan citra perusahaan secara keseluruhan.
  4. Manajemen industri kecil juga memiliki fleksibilitas yang tinggi dibanding perusahaan besar. Fleksibilitas tersebut terlihat dari kemauan pengusaha kecil untuk “membelokkan” arah usahanya ke arah yang lebih “market friendly”. Perusahaan besar tidak bisa melakukan hal tersebut dengan mudah karena alat yang dimiliki tak bisa digunakan untuk memproduksi produk lain.

Kesalahan-kesalahan Industri Kecil

Melakoni usaha dalam industri kecil, memang tidak terlepas dari resiko-resiko yang kadang kala dapat membuat usaha yang kita jalani mengalami kemunduran. Lebih-lebih dalam industri kecil di lingkup home industri. Jika tidak jeli rawan mengalami kebangkrutan. Kesalahan insdutri kecil ini lebih kepada salah dalam perencanaan awal.

Nah, ada beberapa kesalahan-kesalahan yang biasanya dilakukan oleh industri kecil.

  1. Kurang perencanaan untuk jangka panjang. Perencanaan awal yang harus nya dilakukan ini kadang luput dari perhatian. Terlebih untuk jenis home industri. Alhasil, ketika usaha sudah berjalan dan memberikan keuntungan, kita kebingungan untuk dapat mengembangkannya. Biasanya tenaga untuk merancang perencanaan bagi industri ini sangat terbatas. Akibat kesalahan industri kecil semacam ini industri tidak dapat berkembang dan justru malah berjalan di tempat.
  2. Terlalu bernafsu. Dalam membuka usaha dalam skala kecil ini biasanya dalam tahap awal semangat yang timbul sangatlah besar. Namun harus selalu diingat adalah kita harus dapat menjaga kesinambungan perkembangan usaha. Jangan ketika sudah memulai membuka usaha yang satu dengan semangat yang membara langsung membuka beberapa jenis usaha lain tanpa perencanaan yang matang. Hal ini jika usaha berkembang memang akan menghasilkan sesuatu yang baik. Namun jika terjadi hal sebaliknya, maka akan banyak sekali modal yang terkubur di dalamnya. Jika kita fokus pada satu usaha mungkin akan lebih baik.
  3. Kurang kreatif. Bergelut dalam home industri, membuat pelaku usaha ini harus mencari taktik serta strategi-strategi yang bisa dilakukan agar usaha mendapatkan pembaharuan ke arah yang lebih baik. Hal ini sepatutnya dilakukan dan dibuat dari awal rencana dan selalu diperbaharui dalam perjalanan. Sumber untuk memperbaharuinya ini bisa kita peroleh dari saran-saran yang akan kita dapatkan dalam perjalanan usaha. Namun banyak dari kita yang kurang sigap untuk menyikapi saran-saran yang diterima. Tidak mau mencari cara untuk dapat membuat suatu pembaharuan baik dari produk maupun dari cara strategi pemasaran yang dilakukan.
  4. Kurang mempertahankan kualitas dan kepercayaan konsumen. Kesalahan industri kecil yang satu ini rasanya kerap terjadi. Pada masa awal barangkali akan membuat sebaik mungkin. Namun seiring perkembangan usaha, banyak dari kita yang memutusan untuk mengurangi bahan baku. Apalagi untuk home industri yang bergerak dalam bidang makanan khususnya. Ketika kepercayaan konsumen sudah didapatkan kadang justru merusaknya kembali dengan pengurangan dengan alasan efisiensi anggaran. Begitu juga dengan bidang lain. Jika pada saat konsumen sudah mulai percaya dan usaha yang kita geluti ini sudah mendapatkan tempat di hati konsumen, kalaupun tidak dapat meningkatkan setidaknya kita tetap pertahankan kualitas dan pelayanan. Hal ini untuk mempertahankan konsumen agar tidak berpindah ke lain hati.