Sering Gagal? Mereka Juga Pernah Mengalaminya!

Inti kegiatan wirausaha adalah pantang menyerah dan berani mengambil resiko. Sehingga banyak anggapan bahwa karakter orang sukses dalam berwirausaha adalah tipe orang yang gigih, bertahan dalam segala ketidakpastian, kreatif, inovatif, dan berambisi untuk mencapai suatu prestasi. Saat ini, banyak masyarakat berlomba-lomba menjadi orang sukses dengan jalur berwirausaha. Meskipun dalam faktanya berwirausaha tidak semudah yang dibayangkan, sebab banyak hal yang tanpa diduga menjadi sebuah halangan dan rintangan saat menjaankan usaha.

Menurut beberapa penelitian menyatakan bahwa hanya 3 dari 10 usaha baru mengalami kesuksesan, selebihnya mengalami kegagalan. Tetapi jika pengusaha yang gagal tersebut tetap bersemangat untuk membangkitkan usahanya, maka usaha tersebut akan lebih bertahan dalam kesuksesan. Oleh sebab itu, banyak orang sukses yang menyatakan bahwa kegagalan merupakan batu loncatan untuk mencapai tingkatan yang lebih tinggi. Hal ini dibuktikan dari sebagian besar kisah sukses dalam berwirausaha, yang sebelumnya sering gagal dalam menjalankan usahanya.

Berikut merupakan contoh kisah sukses pengusaha, yang dalam perjalanan usahanya sering gagal, dan saat ini sedang menikmati masa kesuksesannya.

  1. Kesuksesan penjualan produk di suatu negara belum tentu menjamin kesuksesan di negara lain. Hal ini yang dialami oleh perusahaan Otsuka yang terkenal dengan produk Pocari Sweet. Pada Negara Jepang, produk minuman isotonik ini mengalami kesuksesan penjuan tingkat 1. Tetapi pada masa perkenalan produk pada Negara Indonesia, Pocari Sweet dianggap gagal produk. Hingga akhirnya pada sekitar tahun 1997-1998, Pocari Sweet mengalami tinggat kegagalan yang paling mencemaskan. Berbagai macam cara dan strategi pemasaran dilakukan, tetapi sering gagal dalam pencitraan produknya. Hingga akhirnya mereka menemukan pencitraan yang sesuai dengan produk tersebut dan dapat mendongkrak penjualan. Dahulu pencitraan produk tersebut sebagai minuman bagi olahragawan atau atlit kemudian berganti menjadi minuman bergengsi bagi remaja yang dicerminkan dari iklan publikasikan, sedangkan saat ini pecitraan produk sebagai minuman kesehatan penganti ion tubuh.
  2. Orang sukses tidak akan menyerah dengan keadaan, dan selalu mencari solusi terbaik bagi suatu masalah. Pernyataan ini sesuai dengan kisah sukses yang dialami oleh Bapak Sosrodjojo yang merupakan pendiri teh botol Sosro. Sosrodjojo memulai usahanya dengan membuat teh wangi melati yang berasal dari hasil percampuan teh hijau dan bunga melati pada tahun 1940 di Jawa Tengah dengan merek dagang teh cap botol. Pada tahun 1965, generasi keluarga Sosro ingin melakukan ekspansi pasar hingga melakukan promosi di Jakarta. Namun promosi tersebut gagal karena membutuhkan waktu lama untuk menyeduh teh. Mereka tidak menyerah dan tetap melakukan promosi dengan menyeduh teh sebelum ke lokasi promosi. Tetapi usaha itu gagal lagi, sebab banyak teh yang tumpah dalam perjalanan. Sering gagal dalam berpromosi tidak menurunkan semangat tim pemasaran Sosro, hingga akhirnya mereka memiliki ide untuk memasukkan teh ke dalam botol bekas kecap yang telah dibersihkan. Selanjutnya pada tahun 1974 didirikan pabrik teh siap minum dalam kemasan botol pertama di dunia, dengan nama PT Sinar Sosro.

Selain kisah sukses dari kedua perusahaan tersebut, hampir semua usaha dalam prosesnya akan melalui masa kegagalan. Oleh karena itu, jika ingin menjadi orang sukses, jangan takut gagal, sebab kegagalan merupakan suatu pelajaran terbaik. Bahkan semakin sering gagal, maka semakin baik sebuah perusahaan. Hal terpenting adalah dapat mengenali dan mengidentifikasi penyebab kegagalan dari segala sumber daya dan sistem dalam usaha, kemudian segera melakukan perbaikan. Dan cara jitu untuk menghindari kegagalan adalah belajar dari pengalaman dan kegagalan yang dialami oleh orang sukses atau pesaing usaha Anda, sebab mereka juga mengalaminya.

Tantangan terbesar yang harus dirasakan seseorang ternyata justru berasal dari diri sendiri. Pola pikir kita adalah hal terpenting yang harus selalu diwaspadai karena apa yang ada dalam pikiran kita akan menggiring kita pada banyak hal. Salah satu pola pikir yang sangat berpotensi “merusak” adalah pola pikir serba instant. Pola pikir serba instant akan membuat orang tidak menghargai proses dan hanya menekankan perhatian pada hasil akhir.

Buat mereka, bekerja untuk belajar adalah konsep usang yang tak lagi laku di jaman sekarang. Jaman sekarang, orang lebih berpikir bahwa tujuan mereka bekerja adalah untuk mencari uang. Sayang sekali, pola pikir ini justru membawa Anda menjadi pekerja sejati yang nyaris tak memiliki peluang untuk menjadi kaya kecuali Anda menempuh jalan pintas; korupsi.

Orang yang ingin maju akan selalu memandang bahwa dia sedang bekerja untuk belajar. Apa yang dilakukan dalam keseharian di tempat kerja adalah bagian dari proses belajar yang mengharuskannya mengetahui tentang banyak hal baru yang mungkin berguna di kemudian hari. Bekerja untuk belajar akan membuat seorang pekerja menemukan celah yang bisa dimanfaatkan untuk menambah skil diri.

Sementara itu, orang yang bekerja untuk mencari uang tidak akan pernah sempat dan memberi kesempatan pada diri sendiri untuk belajar dan mendapatkan sesuatu yang positif dari pekerjaan yang sedang ditekuni. Orang seperti ini hanya akan mengerjakan sesuatu berdasarkan upah. Secara tidak sadar, tipe orang seperti ini sudah memberikan batasan pada diri sendiri.

Bekerja untuk belajar boleh jadi akan membawa Anda mengerjakan tugas lebih dari yang diminta. Memang benar, Anda tidak akan dibayar untuk kerja ekstra Anda tersebut, akan tetapi apa yang sudah dilakukan akan menambah skil Anda secara tidak disadari. Menyerap ilmu baru dari tempat kerja adalah salah satu prinsip sukses seseorang. Bukan tidak mungkin, orang tersebut bisa menjalankan usaha yang sama di kemudian hari. Dengan mempelajari banyak hal, orang tersebut akan bisa mempraktekkannya di tempat usaha sendiri di masa depan. Prinsip sukses seperti ini seharusnya bisa dipahami oleh banyak orang. Dengan memegang prinsip sukses seperti ini, pekerjaan yang dilakukan akan memiliki nilai tambah tersendiri.

Prinsip sukses seperti ini mungkin terlihat usang. Sebagian orang bahkan memandang bahwa prinsip sukses seperti ini tidak akan membawa mereka menjadi orang kaya. Pola pikir seperti ini yang seharusnya diubah. Banyak contoh yang menunjukkan betapa banyak orang kaya memulai dari nol. Mereka menjadi kaya bukan karena bekerja akan tetapi mereka justru berhasil mencapai level menjadi orang kaya setelah mereka keluar dari pekerjaan lama dan mendirikan usaha sendiri.

Bekerja untuk uang mungkin akan memberikan Anda penghasilan yang “wah” untuk saat ini. Sayangnya, harus disadari bahwa sehebat apapun pekerjaan yang Anda lakukan, Anda hanya memperkaya orang lain. Akan ada masa di mana Anda harus berhenti bekerja dan tidak merubah prinsip bekerja untuk uang, maka saat itu Anda tidak akan mendapatkan penghasilan apapun. Mana yang lebih menyenangkan, menjadi orang kaya sesaat di masa muda atau merintis usaha dari muda dan menjadi orang kaya di masa tua?