Metode mencetak uang yang diajarkan oleh Robert Kiyosaki mendasarkan pada neraca keuangan. Empat komponen penting dalam neraca keuangan yaitu pendapatan, pengeluaran, kewajiban dan aset. Orang dapat dikategorikam kelas miskin, menengah dan kaya hanya dengan melihat perbandingan keempat komponen tersebut. Sistem dan pola pikir mengelola neraca keuangan merupakan keunggulan pemikiran Robert Kiyosaki.

Rich dad atau ayah kaya mencetak uang dengan cara menjual sistem. Sedangkan poor dad atau ayah miskin mencetak uang dengan cara menjual tenaga. Rich dad menciptakan uang yang bekerja sedangkan poor dad mencari uang dengan bekerja.

Uang bekerja untuk tuannya. Robert Kiyosaki mengarahkan orang yang berada di kuadran pekerja dan pekerja lepas punya konsep ini. Kegelisahan orang yang berada di kuadran tersebut adalah pendapatan mereka tidak mampu memenuhi kebutuhan hidup. Robert Kiyosaki tidak menganjurkan orang di kuadaran ini keluar dari pekerjaan. Akan tetapi Robert Kiyosaki mengajarkan metode pengelolaan keuangan yang benar.

Uang yang didapat dari bekerja tersebut dialokasikan sebagian pada portofolio keuangan. Alih-alih bukan dimaksudkan sebagai trader di bursa saham tetapi uang tersebut dipercayakan pengelolaan pada manajer investasi. Manajer investasi mengelola instrumen keuangan seperti reksadana dan komoditas berjangka. Jadi orang tersebut tetap bekerja sesuai dengan pekerjaan yang ada. Hanya pola pikir yang bergeser dari pekerja menjadi seorang pebisnis atau investor.

Seorang pengusaha atau pebisnis dapat dikatakan sebagai pekerja karena pengusaha tersebut bekerja untuk uang. Secara lahiriah, pengusaha atau pebisnis termasuk di dalam kuadran bisnis tetapi pola pikir yang diterapkan sebagai seorang pekerja. Keadaan yang sama terjadi juga pada seorang investor yang masuk di dalam kuadran investasi. Investor ini memiliki pola pikir seorang pekerja. Kedua kuadran tersebut gagal dalam mengelola keuangan mereka. Mereka mengelola uang seperti penjual ritel. Mereka sendiri telah dipekerjakan oleh uang. Pebisnis atau investor jangan terjebak pada pola pikir seorang pekerja.

Rich dad memperhatikan bagian aset. Nilai aset yang besar akan menuju kesejahteraan hidup. Aset yang dimaksudkan oleh rich dad yaitu punya nilai tambah ekonomi yang tinggi dan bertambah terus dari waktu ke waktu. Rich dad mencetak uang dari aset. Poor dad tidak dapat membedakan aset dan kewajiban. Poor dad dapat beranggapan rumah dan tanah adalah aset. Padahal rumah dan tanah tersebut menghabiskan uang untuk biaya perawatan, pajak, hipotek. Pada akhirnya poor dad mengajarkan orang bekerja untuk uang. Poor dad mencetak uang dari bekerja.